Ketahanan Pangan Untuk Wujudkan Indonesia Mandiri

Posted by Revolusi Mental on Tuesday, 20 January 2015 | 08:58:00

Umar Anggara Jenie, seorang pemerhati masalah pangan, mengatakan bahwa Indonesia adalah lumbung keanekaragaman hayati dunia yang tiap 10.000 kilometer persegi lahan di Jawa terdapat 2000-3000 spesies tumbuhan. Potensi ini apabila dikelola dengan baik, sebenarnya bisa mencukupi kebutuhan pangan penduduk dalam negeri bahkan bisa untuk diekspor. Ketika kebutuhan akan pangan terpenuhi, rakyat tidak akan teriak. Ekonomi akan kondusif. Wibawa pemerintah pun ikut terjaga.
Salah satu langkah untuk menjaga ketersediaan pangan adalah dengan melakukan diversifikasi (penganekaragaman) jenis konsumsi karbohidrat pada masyarakat Indonesia. Dalam pelaksanaannya diversifikasi pangan ini juga telah dijadikan gerakan yang sangat serius dengan nama Gerakan One Day No Rice (Sehari tanpa Nasi).
One Day No Rice (ODNR) adalah gerakan sehari tanpa nasi yang implementasinya mengganti asupan karbohidrat nasi berbahan beras dengan karbohidrat lain non-beras dan non-terigu. Perlu diingat, gerakan ini bukan mengharamkan tapi mensubstitusi nasi guna mendiversifikasi pangan. Intinya kita harus juga peduli dengan belajar mengkonsumsi karbohidrat lain seperti umbi-umbian, singkong, talas, gembili, dan yang sejenisnya.
Ketika gerakan ODNR mulai didengungkan pertama kali di Kota Depok, ada kelompok di masyarakat yang merasa tertantang dan berkewajiban memikirkan upaya, strategi, dan implementasi yang harus dilakukan dan diterapkan agar program ini bisa sukses dan memiliki dampak perekonomian bagi masyarakat. Ini bisa kita sebut dengan kelompok kreatif atau “kreator pangan” ODNR.
Kreator pangan ODNR inilah yang turut menjadi penggerak program ketahanan pangan untuk menjadikan bangsa ini sehat dengan turut membantu perkembangan perekonomian. Mereka berkreasi ketika program diversifikasi makanan seperti program ODNR ini digulirkan dengan melakukan upaya agar bisa berkreasi dengan memberikan atau menyediakan bahan baku atau produk makanan alternatif yang sehat dan nikmat.
Kelompok ini juga melihat prospek untuk mendirikan pabrikasi bahan baku pangan non-beras dan non-terigu guna mendukung program diversifikasi pangan tersebut. Selain juga berkreasi dengan membuat makanan dengan konsep baru: makanan pokok non-beras dan non-terigu dengan bermacam varian dan rasa yang tidak kalah lezatnya.  Kelompok ini juga bisa mendirikan foodcourt atau minimarket yang menyediakan produk-produk olahan nonberas dan nonterigu atau juga menyediakan bahan baku yang siap dimasak di rumah dengan bahan baku karbohidrat lain seperti ubi jalar, ubi kayu, talas, gembili, sorgum, pisang, uwi, jewawut, jagung, kacang tanah, atau juga kacang hijau.
Beberapa upaya dari para kreator ketahanan pangan tersebut telah sukses membangun kemandirian ekonomi di daerahnya. Sebut saja upaya dari pabrik nasi jagung di Kecamatan Kaliangkrik di Magelang, Banjarnegara, dan di Temanggung Jawa Tengah. Pabrik beras cerdas di Jember Jawa Timur, pabrik tepung singkong (mocaf) di Gunung Kidul Yogyakarta, pabrik tepung tapioka di Lampung, atau juga pabrik nasi ampok di Kecamatan Purwoasri Kediri Jawa Timur.
Mereka berhasil membangun sebuah kerjasama dengan para petani di desa dengan membeli komoditas pertaniannya. Kemudian di pabrik, para kreator pangan ini mengolah dan mengemasnya menjadi sebuah produk yang siap dikonsumsi. Terakhir, masyarakat kota bisa ikut merasakan hasil olahannya. Simbiosis mutualisme ekonomi yang makin mempererat hubungan antara desa dan kota yang sekarang sudah mulai renggang.
Uang pun Mengalir dari Sektor ini…
Beberapa kreator pangan pun mencoba membuat bahan makan pokok dari jagung dan singkong yang permintaannya kini semakin banyak seiring dengan makin bergulirnya gerakan ODNR yang sudah makin menyebar dan melesat ke sekujur nusantara. Mereka berupaya keras untuk mendukung secara langsung dengan menyuplai kebutuhan akan pangan lokal yang sehat dan murah.
“Saya tertarik mengembangkan nasi berbahan dasar jagung sebagai sumber pangan alternatif. Kemudian saya melihat dari sisi kesehatan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan penderita diabetes yang cukup banyak. Saya berkreasi menciptakan nasi jagung ini didedikasikan untuk para penderita diabetes melitus. Karena orang yang mengonsumsi nasi jagung, umumnya memiliki gula darah yang normal meskipun awalnya gula darahnya di atas normal,” ungkap Suparyo (38 tahun), pemilik usaha nasi jagung di Magelang ini.
Hal yang sama juga disuarakan oleh Muhammad (35 tahun) yang juga merasa bertanggung jawab terhadap bangsa ini. Penyedia beras jagung asal Temanggung ini pun merasakan bahwa dengan tersedianya bahan pangan lokal nonberas dan nonterigu yang siap konsumsi tentu akan memudahkan masyarakat dalam mendiversifikasi pola makannya. Masyarakat yang mindset-nya sudah terbentuk dengan pentingnya penganekaragaman jenis pangan tersebut akan sangat bersuka cita karena ia dengan mudah mendapatkan bahan pangan nonberas dan nonterigu tadi di dekat rumahnya.
Sedangkan di kota besar, hasil produksi dari para kreator pangan daerah tersebut kini sudah terhidang dengan lezat di beberapa rumah makan skala besar. Masyarakat kota sudah merasakan olahan makanan sehat tersebut. Manajer Operasional Rumah Makan Minang “Simpang Raya” Depok, Ahmad Sugimansah (35 tahun) pun menambahkan, nasi jagung telah disuguhkan sejak tiga minggu yang lalu di sini. Peminat nasi jagung pun tiap hari bertambah. “Secara bisnis menguntungkan, karena satu kilogram nasi jagung dapat menghasilkan 15 porsi, sedangkan nasi beras hanya delapan porsi. Sekarang sudah banyak yang minta nasi jagung dibungkusin,” paparnya.
Dr. Ir. Nur Mahmudi Isma’il, M.Sc. sebagai tokoh diversifikasi pangan nasional ini juga menyebutkan bahwa semua pihak diuntungkan apabila mindset bangsa ini sudah tidak terpatok bahwa bahan pangan itu hanya beras saja. Dengan adanya sosialisasi secara terus-menerus tentang gerakan ODNR ini tentu petani akan terus menggali potensi pangan lokal yang begitu berlimpah. Hasil dari petani kemudian diolah oleh produsen kemudian dibeli oleh masyarakat. Sebuah kemitraan alami yang bisa mengangkat harkat hidup masyarakat desa.
Menjadi Konsumen Cerdas
Kemandirian ekonomi berbasis  ODNR  ini diawali dari pemahaman kita untuk menjadi konsumen cerdas yang pandai dalam memilah makanan yang sehat. Ketika tren untuk mengonsumsi makanan pokok tersebut sudah bermacam variasi karbohidratnya, sudah tentu akan menjadikan kita sehat dan produktif. Pola ini akan menghasilkan kemitraan dan kerjasama dengan pihak-pihak terkait. Diawali dari dukungan dari pemerintah kemudian melalui institusi pendidikan seperti perguruan tinggi, rumah makan penyedia menu nasi jagung, dilanjut dengan usaha kecil-menengah yang mulai memproduksi serta memasarkan produk makanan pokok dari beraneka jenis karbohidrat lokal.
Andai saja kita dalam sepekan sekali saja mengganti nasi dengan nasi jagung, Indonesia dapat menyediakan cadangan beras 4,8 juta ton setara dengan Rp35,4 T atau terjadi perputaran ekonomi sebesar Rp70,8 T. Tentu hal ini akan menguntungkan bagi ketahanan pangan kita.  Negara yang kuat dalam hal ekonomi, tentu akan menjadi lebih percaya diri dan tangguh dalam menghadapi konstelasi politik dunia sesulit apa pun.
Akan tercipta peluang usaha baru dari para kreator pangan. Tercipta lapangan kerja di sektor produksi pangan di daerah-daerah di Indonesia. Orang desa tidak perlu harus mencari penghidupan ke kota-kota besar. Inilah hasil dari kebangkitan ekonomi dari celah yang dilakukan dengan mengubah pandangan bahwa penganekaragaman pangan itu perlu. Makanan pokok sehari-hari kita tidak harus nasi tapi bisa nasi dari jagung atau singkong.
Terakhir, maukah Anda lanjut usia karena tubuh yang sehat? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan fakta seperti yang ada di salah satu daerah di Pamekasan Madura yang usia warganya di atas delapan puluh tahun bahkan di atas seratus tahun pun ada. Ketika ditanya mengapa usia penduduk sana begitu panjang, karena mereka sehat dengan pola konsumsi rutin makan nasi jagung dan nasi telo (singkong) yang dilengkapi dengan sayur dan lauk pauk seperti biasa.


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 08:58:00

0 komentar:

Post a comment

JOKOWI PEMIMPIN RAKYAT