Revolusi Mental tidak cukup dengan kata atau slogan tetapi perbuatan nyata : Talk Less Do More

Posted by Revolusi Mental on Sunday, 20 December 2015 | 08:41:00

Sudah menjadi hal yang lumrah Ketika ada sahabat kita yang kesusahan atau mengalami musibah, teman-temannya hanya menyampaikan bela sungkawa. Sabar ya, itu ungkapan yang biasa dilontarkan hanya untuk menghibur. Belajar dai Prof. Abdul Basith, untuk me-Revolusi Mental tidak cukup dengan kata-kata. Talk Less Do More. Jokowi punya slogan seperti kaos yang sekarang ini saya pakai sekarang: Kerja, Kerja, Kerja. Artinya kita harus behenti berwacana dan lebih banyak berbuat daripada hanya berbicara atau berpendapat.

Ini kisah yang pertama. 
Ketika Keponakan Pak Basith kehilangan Motornya, dia SMS ke semua Paman dan Bibinya dan semua hanya memberikan jawaban standar. Sabar Ya, semoga cepat dapat gantinya. Menerima SMS ini Pak Basit tidak membalas. Tetapi dia datang ke Show Room Motor Bekas, dicari yang bagus dan layak pakai dan dibelinya. Setelah itu beliau menelpon keponakannya agar datang ke Show Room yang disebutkan. Keponakannya bertanya untuk apa, Pak Basith menjawab sudahlah datang saja ke show room itu dan temui pemiliknya tanya apakah ada pesan dari paman Basith. Setelah datang ke Show Room tersebut keponakan Pak Basith terkaget-kaget karena pemilik show room memberikan kunci motor berikut STNK dan BPKB nya dan sudah disiapkan Sepeda Motor yang cukup bagus. Setelah itu sang Keponakan menemui pak Basith langsung memeluk dan menangis mengucapkan terima kasihnya.
Belajar dari Guru Besar Revolusi Mental Dr. Ir. Abdul Basith, MSc, kita bisa menyimpulkan bahwa Revolusi Mental yang sebenarnya tak perlu banyak kata tetapi cukup dengan perbuatan. Talk Less Do More. 

Sekarang kisah yang Kedua.
Ketika sahabat saya kehilangan HP nya, dan dia posting di Group WA maupun Facebook yang pertemanannya sudah lebih dari 5000 orang (2 akun), semua hanya menyampaikan kata-kata standar, "Sabar Ya, semoga cepat dapat gantinya". Itu sangat biasa dan standar padahal teman beliau ini orang-orang hebat dan banyak juga yang super kaya, pengusaha, milyarder, pejabat, dll. Namun ada satu teman yang tidak disangka padahal secara ekonomi sangat lemah, tidak punya penghasilan tetap, dia tanpa basa-basi memberikan Black Berry miliknya. "Saya masih ada android", tuturnya. Melihat ini saya meneteskan air mata. Ternyata empati yang bukan sekedar kata-kata justru datang dari orang yang tidak disangka dan lemah secara ekonomi.

Pelajarannya adalah : Jangan melihat orang dari penampilannya dan kesulitan hidupnya lalu kita memilih teman yang kaya, berkedudukan dan prestise. Karena pertolongan bisa jadi justru datang dari orang yang lemah. Mungkin orang yang lemah pernah mengalami kesusahan yang sama dan tidak ada teman yang membantu. Ketika ada teman yang kesusahan maka tergeraklah hatinya untuk membantu. Tapi mereka yang kaya dan berkecukupan mungkin mereka tidak pernah mengalami kesusahan sehingga tidak tergerak sedikitpun untuk membantu temannya yang terkena musibah.


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 08:41:00

0 komentar:

Post a comment

JOKOWI PEMIMPIN RAKYAT