Seminar Revolusi Mental dan Kewirausahaan di Gedung IBI Kosgoro 1957 Lenteng Agung

Posted by Revolusi Mental on Tuesday, 29 December 2015 | 08:46:00

Pada hari Selasa, 29 Desember 2015, Relawan Gerakan Nasional Revolusi Mental bekerjasama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, menyelenggarakan Seminar Revolusi Mental dan Kewirausahaan dengan tema "BERANI SUKSES, MEMIMPIN PERUBAHAN MENUJU NUSANTARA JAYA 2045". Seminar tersebut diikuti oleh 130 orang peserta terdiri dari 100 Pelajar dan Mahasiswa di sekitar Lenteng Agung - Jakarta Selatan dan 30 orang peserta dari kalangan Relawan dan Masyarakat Umum. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedung IBI Kosgoro 1957 Lantai 5 yang terletak di Jl, Muh Kahfi II No. 33.

Kegiatan ini didahului dengan laporan Ketua Panitia Bp. Subagja S. Ubaedillah dan  dibuka oleh Bapak Mulyadi selaku Ketua Umum Relawan Gerakan Nasional Revolusi Mental dilanjutkan dengan paparan narasumber pertama Bapak Dr. Haswan Yunaz, M.Si, MM selaku Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Beliau menyampaikan bahwa Menurut hasil survey internasional bahwa negara Indonesia merupakan Negara yang paling berpolusi, memiliki kota yang paling macet dan banyaknya tindak korupsi. Oleh karena itu Pemerintah memiliki satu gerakan yang disebut Gerakan Nasional Revolusi Mental yaitu satu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala yang bertujuan untuk lebih memperkokoh kedaulatan, meningkatkan daya saing dan mempererat persatuan bangsa. Adapun cara yang di gunakan adalah dengan tiga nilai Revolusi Mental yaitu Integritas, Etoskerja dan Gotong Royong.
Materi Kedua dilanjutkan oleh Bapak Agus Hitopa, S.H, M.Si yang memaparkan materi berjudul Komunikasi Menuju Perubahan. Beliau menyampaikan mengenai tiga hal dalam kehidupan bernegara sebagai cara mewujudkan gerakan nasional revolusi mental dalam pembentukan karakter bangsa yaitu mulailah dari diri sendiri, tanamkan jiwa memiliki, dan bangkitkan kesadaran serta sikap optimistic.
Materi Ketiga dilanjutkan oleh Bapak Sarno Wibowo, MCH, CHt selaku Ketua Bidang Pedidikan dan Pelatihan (Diklat) Relawan Gerakan Nasional Revolusi Mental. Beliau menyampaikan bahwa semangat Gerakan Nasional Revolusi Mental yang saat ini menjadi sasaran kinerja dari pemerintahan harus kita dukung sebagai rakyat Indonesia. Bentuk dukungan yang dapat kita berikan adalah degan menggelorakan TRISAKTI untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya. Beliau menyampaikan pesan-pesan para pendiri Republik Indonesia untuk waspada terhadap penjajahan gaya baru atau yang disebut Presiden Soekarno sebagai NEO KOLONIALISME (NEKOLIM). Penjajahan gaya baru ini sudah menginvasi ke seluruh lapisan masyarakat bahkan sampai lingkungan terkecil yaitu keluarga. Penjajahan gaya  baru tersebut adalah penjajahan melalui invasi produk-produk asing yang sudah masuk kerumah kita hingga kamar-mandi dan dapur semua penggunakan produk asing. Lihat saja Pasta Gigi, Sabun, Shampo yang berlabel Unilever atau P&G, kecap, bumbu dapur, syrup produksi Heinz ABC, buah yang kita makan semuanya import, apalagi perabot dan peralatan elktronik, mobil, motor, bahka sandal jepit, semuanya produk asing. Lalu apa yang tersisa untuk bangsa Indonesia bila rakyat Indonesia tidak mau menggunakan produk bangsa sendiri? Beliau yang dikenal dengan julukan Kapten Sar Navigator Otak Kanan ini bersama-sama dengan Bp. Happy Trenggono, telah menggelorakan Gerakan BELI INDONESIA dan berkeliling nusantara untuk membentuk komunitas Wirausahawan lokal dan membangkitkan semangat para pemuda dan pelajar untuk sedapat mungkin menghindari membeli produk asing jika produk asli Indonesia masih ada. Produk Indonesia harus kita bela. Dengan teriakan slogan BELI INDONESIA - BELA INDONESIA, BELA INDONESIA – BELI INDONESIA yang diucapkan bersama-sama oleh para peserta, akan menciptakan angker di otak para peserta untuk selalu mengingat untuk membeli produk Indonesia.
Dalam paparan beliau menggambarkan bahwa Indonesia selama 350 tahun dijajah oleh VOC (Verinigde Oostindische Compagnie) yang disebut oleh orang tua kita dengan istilah belakangnya saja yaitu KOMPENI. Silahkan tanya ke kakek nenek anda, siapa yang menjajah Indonesia? Mereka pasti akan menjawab KOMPENI. Lalu apakah arti KOMPENI? KOMPENI diambil dari bahasa Belanda COMPAGNIE yang dalam Bahasa Inggrisnya adalah COMPANY yang artinya dalah PERUSAHAAN. Siapa yang menjajah Indonesia selama 350 tahun? Jawabnya adalah Perusahaan Dagang Hindia Belanda (VOC). Lalu apa bedanya dengan saat ini? Indonesia saat ini dikuasai oleh Multi National Company (MNC) yang dikomandoi oleh Amerika dan para sekurunya seperti Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, dan saudara-saudara persemakmuran Inggris seperti Australia, Selandia Baru, Malaysia, Singapura, Hongkong, Canada, dll.
Lalu apa bedanya dijajah oleh KOMPENI dan COMPANY? Jawabnya sama saja. Kesimpulannya, hingga detik ini kita masih dijajah KOMPENI. Untuk merdeka dari penjajahan KOMPENI/ COMPANY maka kita harus membuka paradigma/ pola pikir/ mindset bangsa Indonesia untuk BERDIKARI (berdiri di atas kaki sendiri) seperti yang di amanatkan Presiden Soekarno yang intinya adalah memperjuangkan TRISAKTI DAN REVOLUSI MENTAL.

Kegiatan Swakelola Sosialisasi Revolusi Mental Melalui Seminar Revolusi Mental dan Kewirausahaan kemudian dilanjutkan dengan dialog berbagi pengalaman kewirausahaan sebagai upaya mengubah mindset bangsa Indonesia dari Bangsu Buruh/ Pekerja menjadi bangsa yang Mandiri, Berdiri di atas kaki sendiri, berwira usaha dan memiliki usaha sendiri meskipun kecil, lebih terhormat daripada menjadi budak bangsa asing di negeri sendiri. Pada kesempatan ini beberapa anggota Komunitas Wira Usaha Pelajar Indonesia (WPI) berbagi pengalaman bahwa untuk memulai usaha sendiri tidak perlu harus menunggu lulus kuliah, karena wira usaha sudah bisa dilakukan sejak masih berstatus pelajar. Para pelajar ini sudah memiliki beberapa usaha sendiri dan bahkan sudah punya karyawan untuk menjalankan usahanya. Hal ini dimaksudkan untuk membuka mata para peserta seminar untuk merevolusi mentalnya dan memberikan contoh kepada kakak-kakaknya yang sudah berstatus mahasiswa agar tidak bercita-cita menjadi pekerja setelah lulus kuliah, tetapi hendaknya mampu menciptakan lapangan pekerjaan dengan ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah serta mampu memberikan pekerjaan kepada saudara-saudara sebangsa yang kurang beruntung karena tidak mampu meneruskan pendidikannya.
Harapan para pelajar WPI ini juga diperkuat oleh peserta lain yang merupakan anggota HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia). Untuk mencapai Kemandirian dan Bidang Ekonomi seperti yang diamanatkan oleh TRI SAKTI, maka para Pelajar dan Mahasiswa yang merupakan calon generasi penerus bangsa harus mampu bersaing dengan produk-produk asing yang kini sudah membanjiri Indonesia. Salah satu pengusaha yang berbagi pengalaman adalah Bapak Kidon Ginting, SPd seorang guru yang memulai karirnya dengan mengajar anak TK sambil melanjutkan kuliahnya dan kemudian mengajar di lembaga Kursus Bahasa Inggris yang akhirnya dengan modal nekat BERANI SUKSES mendirikan Lembaga Kursus sendiri yang membawanya ke puncak sukses. Saat ini beliau sudah memiliki Sekolah Umum mulai dari SD, SMP, SMA, SMK disamping mempertahankan lembaga kursusnya yang tersebar di beberapa penjuru Jakarta. Saat ini beliau melebarkan sayap usahanya dengan membuka Restoran Fried Chicken untuk mengimbangi dominasi Restoran Asing seperti KFC, Mc Donald, A&W dan lain-lain. Selain itu beliau juga membuka Cofee Shop untuk mengimbangi warung kopi asing seperti Starbuck, J-co, Kopitiam, Exelso dan lain-lain. Produk Indonesia harus kita bela. Beli Indonesia – Bela Indonesia. Bela Indonesia, beli produk Indonesia.









FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 08:46:00

0 komentar:

Post a comment

JOKOWI PEMIMPIN RAKYAT