Pembiakan Buah Tin dan Ocra melalui Kultur Jaringan di Demplot Pertanian Revolusi Mental

Posted by Revolusi Mental on Tuesday, 6 September 2016 | 22:45:00

Pembiakan Buah Tim di Demplot Pertanian Revolusi Mental
Demplot Pertanian Revolusi Mental di Majalengka berhasil mengembangkan bibit Buah Tin melalui kultur jaringan. Bibit buah Tin ini diperoleh dari Thailand pada saat Tim Revolusi Mental Bidang Pertanian berkunjung ke Thailand untuk melakukan Studi Banding teknologi pertanian. Dalam kunjungan tersebut kami memfokuskan untuk membuktikan keberhasilan penerapan teknologi pertanian Thailand yang berhasil mengembangkan Tanaman Buah Kurma agar dapat tumbuh dan berbuah lebat di tanah Asia. Sebagaimana diketahui, habitat pohon kurma adalah di tanah Arab atau Timur Tengah yang berpasir, dan meskipun banyak di tanam di Indonesia tetapi hanya bisa berfungsi sebagai tanaman hias karena tidak bisa berbuah seperti di Timur Tengah. Mendengar berita bahwa Thailand berhasil mengembangkan Kultur Jaringan Pohon Kurma agar cocok tumbuh dan berbuah lebat di tanah Asia, maka pada bulan Maret lalu, Tim Revolusi Mental bidang Pertanian berangkat ke Thailand untuk membuktikan khabar tersebut.
Buah Tin dari Thailand
Dalam kunjungan tersebut, kami tidak hanya mengunjungi Kebun Kurma tetapi juga mengunjungi Perkebunan Buah Anggur dan Perkebunan Buah Tin. Sejujurnya kami ingin membeli bibit kurma, tin dan anggur tersebut untuk kami kembangkan di Indonesia, namun karena keterbatasan dana dan kesulitan regulasi pemerintah dalam hal impor bibit yang mengandung unsur tanah, maka kami tidak berhasil membawa masuk bibit tersebut ke Indonesia. Harga bibit Buah Tin di Thailand mencapai 75 juta rupiah per pohon dan ini sangat mahal bagi kami. Namun anggota kami tidak kurang akal agar dapat membawa bibit tersebut, dengan mengambil potongan batang buah Tin dan diselipkan di saku celananya. Sesampainya di Indonesia, anggota kami mengakali potongan batang sepanjang sekitar 10 cm tersebut untuk dikembangkan melalui kultur jaringan. Dan Alhamdulillah batang tersebut bisa tumbuh menjadi 16 pohon buah Tin yang saat ini sudah berbuah.
Pembiakan melalu kultur jaringan ini selain untuk mendapatkan varietas yang sama dengan induknya juga menghasilkan tanaman yang cepat berbuah. Karena Kultur Jaringan dari Genetika yang diambil masih mengingat bahwa dia berasal dari pohon yang sudah berbuah dan masih ingat bagaimana caranya berbuah. Berbeda dengan pengembang biakan melalui proses generatif atau dari biji buah, maka akan menghasilkan turunan (F2 dst) yang hasilnya bisa jauh berbeda dengan induknya. Karena induknya diproses melalui rekayasa genetika yang merupakan campuran dari beberapa gen untuk menghasilkan kualitas yang diinginkan sedangkan turunanya bisa kembali ke salah satu sifat aslinya yang bisa lebih buruk dari induknya. Ibarat bayi, tanaman yang dikembangkan dengan metode generatif harus melalui proses yang panjang mulai dari merangkak, berdiri, berjalan, dst hingga mampu berbuah. Dibutuhkan waktu hingga bertahun-tahun bagi tanaman generatif untuk belajar berbuah. Sedangkan pengembangan dengan kultur jaringan hampir sama dengan pengembangan dengan cara cangkok atau tempel dimana gen yang terdapat pada tunas atau kulit batangnya masih menyimpan memori bahwa dia adalah pohon yang pernah berbuah, jadi tinggal mengulangi saja. Tentu saja ini adalah pemahaman secara harafiah untuk memudahkan pemahaman, bukan merupakan jawaban ilmiah.
Ocra dari Australia
Selain berhasil mengembangkan bibit Buah Tin, demplot pertanian Revolusi Mental juga berhasil berhasil mengembang biakkan tanaman Ocra dari Australia, Pisang Kapendis, Jeruk, Klengkeng, Kedongdong, dan lain-lain.



FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 22:45:00

0 komentar:

Post a comment

JOKOWI PEMIMPIN RAKYAT